Bukit Tinggi

A. Selayang Pandang

Kota Bukittinggi, Sumatra Barat adalah kota sejarah, kota tempat lahirnya tiga pahlawan besar Indonesia, dan juga kota dengan eksotisme wisata yang menawan. Bukittingggi memiliki semua kriteria untuk menjadi target wisata bagi para pengunjung.  Di kota yang menjadikan tanggal 17 Desember sebagai hari jadinya ini terdapat Jam Gadang yang menjadi landmark kota, peninggalan sejarah kolonial dan museum-museum kebudayaan Minangkabau serta Istana Bung Hatta.

Secara administratif Kota Bukittinggi sudah mulai terbentuk pada zaman kolonial Belanda. Belanda menjadikan Bukittinggi sebagai Gemeentelijk Resort atau semacam kotamadya berdasarkan Stbl tahun 1828 bersama dengan 32 Gemeentelijk Resort lain di Indonesia. Status ini menjadikan Bukittinggi saat itu sudah memiliki Gemeenteroad atau pemerintahan otonom yang mayoritas harus dikuasai oleh orang Belanda. Di Bukittinggi juga didirikan sebuah benteng  pertahanan bernama “Fort De Kock”. Benteng tersebut masih utuh dan dijadikan sebagai salah satu objek wisata sejarah. Kota ini juga digunakan oleh opsir-opsir Belanda yang berada di wilayah jajahan timur untuk beristirahat.

Pada masa pendudukan Jepang,  Bukittinggi diganti namanya dari Taddsgemente Fort de Kock menjadi Bukittinggi Si Yaku Sho dengan tambahan wilayah yang kini menjadi Kabupaten Agam. Jepang juga mendirikan sebuah pemancar radio terbesar di Pulau Sumatra untuk kepentingan propaganda. Selain itu menurut Pemda setempat, Jepang juga menjadikan Bukittinggi sebagai komando militer ke-25 untuk mengendalian kekuatan militernya di Sumatra, Singapura sampai Thailand.

Setelah Indonesia merdeka, Bukittinggi pernah dijadikan sebagai pusat pertahanan perjuangan kemerdekaan. Bahkan pada Desember 1948 sampai Juni 1949, Bukittinggi sempat dijadikan sebagai ibukota Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) yang dipimpin oleh Mr. Sjafroedin Prawiranegara. Keputusan tersebut dikeluarkan Presiden Soekarno setelah Yogyakarta jatuh ke tangan Belanda akibat Agresi Militer II. Setelah itu Bukittingti ditetapkan sebagai Ibukota Sumatra, lalu pada 1959 dijadikan ibukota Sumatra Tengah. Setelah adanya pengembangan Sumatra Barat, Bukittinggi dijadikan sebagai ibukota Sumatra Barat sebelum akhirnya pada tahun 1978 dipindahkan ke kota Padang.

Luas Kota Bukittinggi mencapai sekitar 250239 km2 yang terdiri dari bukit dan lembah. Bukit-bukit yang terdapat di Bukittinggi merupakan rangkaian sabuk dari bukit barisan. Di samping bukit, kota ini juga dikelilingi oleh tida gunung yaitu Gunung Merapi, Gunung Singgalang, dan Gunung Sago. Keberadaan tiga gunung inilah yang menyebabkan Bukittinggi juga dikenal dengan sebutan Kota Tri Arga. Konfigurasi letak geografis Bukittinggi yang berbukit dan ada di atas 900 m dpl (dari permukaan laut), menjadikan udara di Bukittinggi dingin dan sejuk.

B. Keistimewaan
Potensi pariwisata Kota Bukittinggi dalam kalkukasi pemerintahan daerah, menyumbang hampir 30% dari total PAD (Pemasukan Asli Daerah). Hal tersebut tentunya tidak mengherankan, sebab potensi wisata di kota ini terhitung lengkap. Wisata alam kota Bukittinggi ditopang oleh kehadiran objek bukit-bukit yang mengelilingi Kota. Suasana khas pegunungan dengan udaranya yang sejuk menjadikan Bukittinggi bisa menjadi tempat pelepas stress bagi wisatawan. Hamparan hijau lanskap bukit juga sangat cocok untuk target para penikmat fotografi. Keindahan tersebut bisa disantap mata apabila wisatawan sedang berada di lembah kota.

Sebagai salah satu pusat dari kebudayaan Minangkabau, Kota Bukittinggi menyajikan prototipe dari kebudayaan Minangkabau. Rumah adat, pakaiaan, bahasa hingga kuliner khas bisa ditemui di Kota Bukittinggi. Di hampir semua sudut,  Kota  Bukittinggi menyajikan rumah-rumah gadang khas budaya Minangkabau. Rumah-rumah tersebut berjajar rapi dengan atap berbentuk tanduk kerbau. Di rumah-rumah ini wisatawan juga dapat menikmati ukiran-ukiran bercorak Minangkabau yang tertera di dinding-dinding rumah. Warga setempat juga masih menggunakan baju keseharian adat Minangkabau.

Suasana pagi dari di kota Bukittinggi juga terasa spesial. Pemandangan sunrice dengan warna biru langit yang masih malu berpadu dengan siluet bukit-bukit sangat cocok untuk dijadikan pajangan. Pemadangan seperti itu bisa dibidik dari semua penjuru mata angin. Di waktu malam, terutama saat ada perayaan, warna kerlipan lampu dan kembang api lazim ditemui di Kota Bukittinggi ini.
Keistimewaan lain yang dapat ditemui wisatawan di Bukittinggi adalah letaknya yang dekat objek wisata alam Ngarai Sianok. Jarak Kota Bukittinggi dengan Ngarai Sianok dapat ditempuh dengan perjalanan darat selama kurang lebih tiga jam. Dalam perjalanan pengunjung juga dapat singgah untuk menikmati objek wisata Jam Gadang, benteng pertahanan Ford de Kock, serta Gua-gua peninggalan kolonial Jepang. Tak ketinggalan, keistimewaan lain dari Kota Bukittinggi adalah rute perjalanan menuju objek-objek tersebut yang berkelok-kelok. Di Bukittinggi di kenal tikungan 44 atau Kelok ampek puluh ampek untuk menuju ke Danau Maninjau. Perjalanan di tikungan tersebut akan memberikan sensasi lain terutama bagi wisatawan yang gemar berkendara.

C. Lokasi
Kota Bukittinggi merupakan salah satu Kotamadya yang terdapat di Provinsi Sumatra Barat. Secara geografis, kota ini terletak di 100,210 – 100,250 derajat BT dan antara 00.760 – 00,190 LS. Jika di tarik dari ibukota Sumatra Barat Padang, Bukittinggi terletak sekitar 90 km arah Timur Laut.

D. Akses
Akses menuju kota Bukittinggi dapat ditempuh dari berbagai kota di Sumatra Barat. Bila menggunakan jalur darat, wisatawan dapat menggunakan jalan lintas Sumatra yang membentang dari Propinsi Lampung hingga Nangroe Aceh Darussalam. Sedang, bagi wisatawan yang menggunakan jalur udara, wisatawan dapat menggunakan titik pemberhentian di Kota Padang untuk selanjutnya menempuh jalur Darat. Sedangkan untuk mengunjungi berbagai objek wisata di Kota Bukittinggi wisatawan dapat menggunakan berbagai moda angkutan umum yang tersedia merata di Kota Bukittinggi

E. Akomodasi dan Fasilitas Lainnya
Untuk mendukung sektor pariwisata saat ini di Bukittinggi terdapat 43 buah hotel baik berbintang maupun melati ditambah 11 mes/wisma/pondok wisata. Keberadaan akomodasi tersebut juga untuk menopang peran Bukittinggi sebagai home base wisata di Provinsi Sumatra Barat.

Sedangkan untuk restoran maupun rumah makan, di Bukittinggi tersedia rumah makan dan restoran terutama di kawasan, Los Lambuang. Di kawasan ini, para pengunjung bisa memanjakan lidah mereka dengan makanan khas Minangkabau. Tidak jauh dari kawasan Los Lambuang, dan di dekat objek wisata, beberapa travel biro juga siap untuk melayani perjalanan wisatawan. Sedang untuk urusan belanja dan souvenir, di kawasan Los Lambuang juga menawarkan berbagai cinderamata maupun oleh-oleh khas dari Kota Bukittinggi.


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: